Jumat, 17/06/2016 20:48 WIB

“APAKAH ADA NEGARA BATAK DAHULU KALA”?

Penulis: Drs Jannus Panjaitan/ Pemred
Jakarta - Eltrapost,
Seiring dengan kemajuan komunikasi Internet, situs – situs yang membicarakan tentang sejarah batak juga banyak bermunculan, dimana situs – situs ini bertujuan baik untuk membuka sejarah Batak. Tetapi sangat di sayangkan isi dari situs itu mengerdilkan keberadaan Kerajaan Batak atau Negara Batak.

    Dari berbagai pendapat dari penutur sejarah Batak di situs – situs itu, disebut ada beberapa Dynasti, yaitu Dynasti Sebelum Raja Uti, Dynasty Raja Uti, dan Dynasty Sisingamangaraja. Tetapi tidak ada dalam penuturan itu Dimana Wilayahnya, Bagaimana Struktur Kerajaannya, apakah Kerajaan ini system Pemerintahannya Terpusat atau Serikat.

    Karena pembicara disitus itu  malu -  malu mengakui adanyara  Negara Batak, dan  ada pula yang beranggapan Negara Batak itu tidak ada, dan ironisnya   membuat suatu logika berpikir yang keliru seolah – olah Raja Sisingamangaraja hanya Raja Bakkara karena Tempat tinggalnya berada di Kampung Bakkara, padahal Raja Sisingamangaraja adalah Raja Batak dari  Negara Batak yang Rumahnya di Kampung Bakkara.

    Untuk memberi gambaran yang lebih Luas tentang Negara Batak, penulis mewancarai salah seorang dari Keturunan dari Dynasti Sisingamangaraja , dimana tokoh kita ini ber Marga Panjaitan dari Matio Balige,   keturunan Raja Sijorat Poraliman Wakil Kepala Negara dari Negara Batak, Tokoh ini menamakan dirinya adalah Panurirang dari Matio, beliau mengatakan; Negara Batak adalah Negara Realita di Zamannya, Wilayahnya di Sumatera bagian Utara sepanjang Pegunungan Bukit Barisan, Negara ini diapit dua Kerajaan yaitu  Kerajaan Padang dan Kerajaan Aceh.

    Panurirang ini mengatakan, Raja Pada Dynasti Sisingamangaraja adalah Dwi Tunggal yaitu; Raja Sisingamangaraja berasal dari Bakkara dan Wakilnya Raja Sijorat Poraliman Panjaitan dari Matio – Balige. Ibu Tercintanya Ibunda yang Saleh, Sabar nan Bijak Putri dari Raja Hutapea Laguboti dan Istrinya Putri Cantik Nan Ayu Putri Raja Simorangkir dari Tarutung,  Ibukota Kerajaan adalah Balige Raja, sekarang bernama Kota Balige Ibukota Kabupaten TOBASA – SUMUT. Kerajaan dari Dynasti Sisingamangaraja dimulai dari Tahun !515- 1907

    Kedua Raja ini dalam menyatukan ikatan dwi tunggal mereka agar tidak terpisahkan, mereka sepakat  membuat suatu ikatan batin nan abadi yang  tidak boleh dilanggar  yang dinamai    dalam bahasa Batak  “ Padan”  yang tidak boleh dilanggar, dimana Padan bagi orang Batak adalah ikatan batin yang disepakati bersama dan Tuhan sebagai Saksi, bagi  Siapa yang mengingkari akan dimusnahkan oleh  Tuhan   seluruh Keturunannya, dan Padan ini wajib hukumnya di ikuti oleh keturunannya selamanya. ( Padan dalam bahasa Indonesia padanan katanya adalah Sumpah yang tidak boleh dilanggar yang isinya ditentukan Dua orang dan Tuhan sebagai Saksi, dan bagi yang melanggar akan langsung dihukum Tuhan sesuai isi Sumpah).

     Materi Padan antara Raja Sisingamangaraja I dengan Raja Sijorat Paraliman adalah sebagai berikut; Raja Sisingamangaraja adalah Raja Tertinggi atau Kakak bagi Raja Sijorat Poraliman  diposisi  kerajaan  , dalam hubungan kekerabatan Raja Sisingamangaraja adalah Adik dari Raja Sijorat Paraliman atau disederhanakan dalam Kerajaan Raja Sijorat Paraliman Wakil Raja tetapi dalam hubungan Kekerabatan Raja Sijorat Paraliman Kakak dari Raja Sisingamangaraja.

       Selanjutnya Panuringan ini mengatakan, Karena Ikatan Sumpah ini Kerajaan Batak dalam Dynasti Sisingamangaraja menjadi Kerajaan yang aman dalam gonjang ganjing pergantian Dynasti. Dalam  menjalankan Kerajaan Kedua Raja Arif nan Bijak ini bekerjasama dengan baik,  seperti dalam urusan pemerintahan,  agar roda Pemerintahan berjalan lancar dan efektif , mereka  sepakat membagi pemerintahan  dalam dua  wilayah, yaitu; Wilayah Habinsaran dan Hasundutan ( Wilayah Timur dan Barat). Dimana Raja Sijorat Poraliman Memerintah ke Habinsaran, dan Raja ini dinamai juga  Raja Habinsaran, sedangkan Raja Sisingamangaraja menjalankan roda Pemerintahan ke wilayah Hasundutan.

    Sistim Pemerintahan mereka adalah system pemerintahan Negara serikat, dimana   Kepala Negara dan Pemerintahan serta Pimpinan Tertinggi Agamanya dipimpin Raja Sisingamangaraja dan Wakilnya Raja Sijorat Poraliman, dan di wilayah dipimpin oleh Raja Provinsi yang disebut dengan sebutan Raja Sorinomba, dimana Raja Sorinomba ini memiliki Otonom yang luas dalam mengatur wilayahnya, di tanah Karo dinamai Raja Serinembah, dibawah Raja Sorinomba adalah Raja –Raja satu wilayah yang disebut Raja Bius, dan dibawah Raja Bius ada Raja wilayah yang lebih kecil disebut Raja Parbaringin, dan dibawah Raja Parbaringin ada namanya Raja Ihutan atau Raja Huta (Jaihutan).

    Hilangnya Negara ini adalah setelah Raja terakhir Dynasti Sisingamangaraja yaitu Raja Sisingamangaraja XII ditaklukkan dan ditewaskan oleh Penjajah Belanda pada Tahun 1907, dimana Belanda penjajah ini adalah penjajah yang sangat Keji karena setelah kerajaan di taklukkan, system pemerintahan dan Budayanya dihancurkan menjadi lebur, termasuk seluruh Sistem Agama Batak dan Rumah Ibadahnya di leburhanya meninggalkan Raja Parbaringin tetapi tidak ada kekuasaan dan diganti Kepala Negeri angkatan Penjajah.

    Jadi kepada para pembaca, Panurirang ini mengingatkan kepada Bangso Batak dimanapun berada, agar selalu mengingat didalam hati Sanubari yang paling dalam, Kerajaan  Belanda si penjajah Negara Batak adalah Bangsa penghancur yang paling Keji di Dunia saat menjajah, dimana Negara Batak setelah ditaklukkannya Para Pemimpinnya mulai dari Raja Tertiggi sampai Raja Bius dimusnahkan dan dileburkan,  Agama Batak,  Rumah Ibadat yang disebut Bagas Joro Nabadia dan seluruh Pemimpin Agama Batak  dimusnahkan juga secara sistematik.

    Untuk melengkapi kekejian penjajah ini   Raja Parbaringin dan Raja Ihutan ( Red; Setingkat Kepala Desa) tidak dimusnahkan, kepada Raja Parbaringin ditawarkan jabatan Kepala Negeri  tetapi seluruhnya  menolak dan Kepada Jaihutan di tawarkan gelar yang sama tetapi hanya mengurusi bagian adat saja, sebagian kecil menerima yang tidak menerima dihina secara social, sehingga banyak melarikan diri dengan mengubah identitas didaerah pelarian.

    Jadi penghancuran Penjajah Belanda ke Negara Batak adalah salah satu bentuk penjajahan terkejam di Dunia, karena ada etika penjajah di Dunia atau penaklukkan terhadap Negara lain, jika suatu Negara ditaklukkan hanya Rajanya yang diganti jika tidak bersedia tunduk tetapi struktur Pemerintahannya tidak boleh diganggu gugat apalagi Agama dan sistim Budayanya tidak boleh dihancurkan atau dimusnahkan.

    Jadi untuk menelusuri sejarah Negara Batak harus dimulai dari tulisan tentang Dynasti Sisingamangara dengan mengumpulkan seluruh Pustaha Kerajaan yang dijarah Penjajah Belanda dan dibawah ke Negaranya.

    Pustaha Kerajaan yang terdiri dari Pustaha Kerajaan Pusat, Kerajaan Sorinomba ( Provinsi), Raja Bius  adalah berisi tulisan yang ditulis di lempeng tembaga yang ditempa khusus  dengan tinta Larutan Air Raksa. Nama Pustaha ini disebut PUSTAHA TOMBAGA HOLING, selain dari lempeng Tembaga ada juga Pustaha dari Kulit Kayu, umumnya dimiliki oleh Parbaringin ke bawah atau tokoh-tokoh Kecamatan, ujar Panurirang Matio mengakhiri perbincangan di Taman Mini Indonesia Indah di suatu  Awal April 2016 yang lalu. (Jannus P).