Kamis, 11/05/2017 20:17 WIB
Penulis: Pemred: Drs Jannus Panjaitan
Jakarta - Eltrapost,
Maruarar Sirait Anggota DPR RI Komisi XI; Anggota DPR Si Raja Tega Yang Tidak Mau Menjawab Laporan Masyarakat Yang Terperkosa Haknya
Jakarta - Eltrapost, Maruarar Sirait adalah anggota DPR RI Komisi XI dari PDIP yang sangat terkenal dimasyarakat lantaran beliau ini sering tampil di wawancara Televisi dan Koran –Koran Harian Nasional besar di tanah air. Ketenaran beliau karena Dia Anak dari Politisi besar Indonesia Bapak Sabam Sirait.
Sebagai anak politisi besar Sabam Sirait nama Maruarar sangat cepat menonjol diperpolitikan Nasional karena masyarakat menilai bakat politiknya mewarisi kemampuan Ayahnya. Sebagai Anak Tokoh Besar dari Sabam Sirait, Maruar Anaknya dianggap masyarakat Indonesia sebagai representasi Tokoh dari kalangan Kristen Protestan dan Politik Batak Kristen.
Berdasarkan Hal diatas, Pemimpin Redaksi media ini juga beranggapan Maruarar Sirait adalah representasi masyarakat Batak dan Kristen Protestan di DPR RI, dan beliaulah orang yang tepat disurati untuk melaporkan masalah Suku Batak Kristen Protestan, jika ada hak-hak mereka yang terperkosa.
Media ini telah mengangkat berita tentang dugaan Pemerkosaan Hak Ahli waris korban LAKA yang ditolak PT Jasa Raharja lantaran ahli waris adalah adek almarhun yang bermarga Marpaung, dengan judul Perwakilan PT Jasa Raharja Jakarta Timur Tidak Mengakui Adik Korban Sebagai Ahli Waris. Berita ini diangkat dimedia ini Selasa 30/8/2016. Adapun Jasa Raharja menolak berdasarkan Peraturan Pemerintah No 18 Tahun 1965 pasal 12.
Tetapi alasan itu menurut ahli waris tidak tepat karena di Undang-Undang Hukum Perdata seperti yang diatur dalah Kitab Undang-Undang Hukum Perdata atau KUH Perdata, adik korban sebagai ahli waris adalah sah yaitu ahli waris golongan II ( Pasal 852 KUH Perdata). Berdasarkan inilah media ini melaporkan masalah ini di keberbagai pihak seperti ke Presiden tetapi tidak ada jawaban dan penyelesaian lantaran surat media ini hilang dari peredaran di TU Sekretaris Negara, dan kemudian di laporkan ke anggota DPR RI Komisi XI Maruarar Sirait, dimana surat dua kali dilayangkan, yakni; pada 16 Desember 2016 dan 29 Maret 2017 tetapi tidak ada tanggapan sampai sekarang.
Terakhir media ini dating ke DPR RI untuk menemui anggota dewan yang terhormat ini adalah pada Kamis 28 April 2017 saat sidang Paripurna Hak Angket, setelah dikontek Staf DPR RI keruangan Maruarar, oleh staf DPR RI mengatakan, tidak ada staf Maruarar di ruangan, lantaran mereka semua ikut menghadiri sidang Paripurna.
Tanggapan Masyarakat
Ketika dikonfirmasi masalah ini dengan Ketua Persatuan Wartawan Republik Indonesia Raya (PWRI RAYA) Bapak Handy Pangaribuan di suatu tempat sekitar wilayah Taman Mini Indonesia Indah Cipayung Jakarta Timur, wartawan kawan ini memberi Komentar dengan bersenandung, sekitar 16.00, 11 Mei 2016,
Inilah Senandungnya;
Sungguh malam nasib Kitaaaa
Masyarakat Batak Kristen Protestan ini
Ada perasaan anggota DPR RI perwakilan Kita
Ternyata jika Kita mengadu
Kita jadi dilecehkan
Ho Inong Among Ho Inong Among Dangolnai
( Red; Ungkapan Kesedihan Orang Batak Jika bersenandung)
Sedih sekali Bah Katanya mengakhiri senandungnya.
Di daerah Kepala Dua Wetan, penulis menemui rekan wartawan senior yang lain yakni Amos Situmorang mantan Pemred SKU Mingguan Rakyat Oposisi dan sekarang beliau Wakil Pemred SKU Kompas Rakyat, jam 18.00 Wib 11 Mei 2017, begitu mendengar cerita ini di warung, beliau ini mengambil gitar dan menyanyikan lagu Panbers dengan lirik Sampai Hati Kau berbuat begitu, dengan mengubah beberapa lirik agar pas dengan berita ini;
- Sampai Hati Kau berbuat begitu
- Maruar Anak Sabam Sirait
- Bapakmu Tokoh Besar dari Tanah Batak
- Yang dihormati Semua orang
- Sampai Hati Kamu Melecehan Pemred ini
- Pada Hal Bapakmu Ibunya Boru Sibuea
- Bapakmu panggil Tulang Kepadanya
- Karena Marganya Panjaitan
Reff;
- Kini kamu telah reses
- Jawaban surat tidak ditunggu lagi
- Berita harus dinaikkan
- Biar masyarat mengerti
- Terpaksalah Kamu dilaporkan
- Ke Polda Metro Jaya
- Dengan Delik pidana Pers.
- Aduh sedih, aduh sedih, Amongeee.
Setelah mendendangkan lagu itu, Wartawan senior ini mengatakan, kalau Orang Kita Batak sudah pejabat sudah susah diajak untuk berbagi rasa dan adat Dalihan Na Tolu pun sudah dilupakan, tapi kalau tiba menikahkan Anak ingat adat. Hal seperti inilah yang banyak terjadi di Jakarta ini ujarnya mengakhiri.
( Jannus P)
