Selasa, 31/03/2015 17:41 WIB
Penulis: Drs Jannus Panjaitan/ Pemred
Jakarta - Eltrapost,
Masyarakat Sumut di Jakarta dan sekitarnya terutama kalangan PERS, dan LSM sangat menantikan jurus-jurus maut para alumni USU yang tersebar diberbagai instansi seperti di BPKP, Perpajakan, Perbankkan, Kejaksaan untuk memberi pelajaran kepada tokoh-tokoh nasional yang memandang alumni USU dengan sebelah mata, terkait penggalangan Hak Angket DPR RI terhadap Menteri Hukum Dan Ham.
Alumni USU walaupun salah satu alumni Universitas terbesar di Indonesia memang belum seberuntung Alumni Gajah Mada dan UI, yang alumninya banyak menjadi Menteri dan Pejabat tinggi Negara , padahal dari segi kemampuan Intelek mereka tidak kalah dengan kedua alumni Universitas Besar itu. Sehingga rasa empati terhadap Menteri Hukum Dan Ham, DR Yasonns Hamonangan Laoly, SH yang diserang membabi buta adalah wajar, karena Menteri Hukum Ham ini baru alumni kedua dari alumni USU yang menjadi Menteri.
Sentimen ini terusik setelah tokoh-tokoh Partai Golkar hasil munas Bali sudah irrasional dalam menyikapi persoalan, seperti ada salah satu tokoh yang mengatakan Laoly adalah Begal, dimana pernyataan ini diulang-ulang di media TV mereka, dan kemudian menggalang Hak Angket di DPR RI.
Ketika kekecewaan para Alumni USU ini dikonfirmasikan ke Seorang pengamat hukum di Mapolda Metro Jaya melalui Hand Phone, jumat 27 Maret 2015, Sumihar Simangunsong,SH, dimana beliau Lulusan Universitas Nomensen Medan, dan Dr Laoly,SH adalah mantan Dosen disana. beliau mengatakan, sangat tepat tindakan dan strategi para Alumni USU ini karena tindakan para pengusung Hak angket ini sudah di nilai sangat berlebihan.
Dari segi kemampuan ujarnya melanjutkan, Saya sangat yakin kalau kemampuan akademis hukum Pak Menteri pasti jauh lebih unggul dari kemampuan Pengacara yang mendampingi Kelompok Pengurus PG Munas Bali, yaitu Prof Yusril Mahendra, alasannya Alumni USU sangat piawai di hukum Pidana dan Perdata dibandingkan dengan alumni Universitas Negeri besarnya lainnya.
Menurut Saya, mustahil bagi Prof Yusril Mahendra mampu mengimbangi DR Laoly, SH yang alumni USU untuk bertarung secara Ilmu Hukum pidana dan perdata, karena Prof Yusril adalah jurusan Hukum Tata Negara.
Selanjutnya beliau menyarankan kepada yang terhormat mantan Dosennya Pak Menteri, agar membuka diri kepada PERS mingguan agar ada pertarungan Dialektika Politik di Media, jangan seperti pejabat-pejabat asal SUMUT yang selalu menjauhkan dirinya dari PERS Mingguan, padahal mereka satu daerah asal, sehingga media-media besar dapat dengan mudah menyerangnya dalam suatu kasus karena pejabat tersebut dipandang tidak memiliki sarana untuk menyerang balik, yaitu kumpulan awak media yang dekat kepadanya.
Dari pengamatan Saya media – media mingguan ini gebrakannya sangat disegani menggebrek siapapun di Ibukota ini, persoalan utamanya adalah kurangnya pasokan informasi dan jaringan ke atas, kalau ada informasi agak kabur saja, para pejabat yang disorot sudah pasti ketakutan dan bahkan bisa jadi stroke kalau tidak cepat-cepat memanggil Tulang ke Pemred .
Dihari berikutnya, di Kota Bekasi, salahseorang masyarakat asal SUMUT, Pak Sibuea yang pensiunan PNS di DKI Jakarta, tetapi tidak bersedia menjelaskan identitasnya secara jelas, mengatakan, Pak Menteri tidak perlu takut kepada anggota DPR RI pengusul Hak Angket itu, dan masyarakat asal SUMUT sangat yakin kepada kemampuan Pak Menteri dibidang Ilmu Hukum tidak akan terkalahkan oleh para penggugatnya, salah satu alasannya, kalau dibidang Ilmu hukum alumni USU pasti nomer satu di Republik ini, yang disangsikannya adalah opini media besar yang telah didesain untuk menggiring opini.
Menurut Sibuea, opini media-media harian dan Televisi yang pro kepada kelompok Munas Bali yang harus diantisipasi, karena bukan subtansi keputusan itu yang ingin dituntaskan mereka, tetapi ada udang dibalik itu. Menurut pengamatan Saya, ujarnya, Tujuannya agar Alumni USU tidak bisa menyatukan kekuatan di tingkat Nasional, agar alumni USU takut merebut pimpinan pemerintahan dibidang Hukum, Keuangan, dan Bank, dimana kemampuan pengetahuan mereka dibidang tersebut tidak kalah dengan alumni besar lainnya, malahan secara rata-rata lebih unggul.
Jadi untuk mengkaunter opini media-media besar ini yang telah dicurigai membonceng kepentingan jangka panjang kelompok tertentu, Pak Menteri harus membuka diri kepada Pers-Pers Mingguan dan LSM asal sumut, supaya ada sarana untuk menyerang. Dimana kemampuan mereka sangat jitu untuk menggebrak kasus-kasus koropsi,dll. Secara umum media dan LSM yang disebut itu sangat hebat kekuatan dan sepak terjang mereka.
Jadi salah satu perlawanan yang tepat adalah dengan membuka data-data kejahatan perbankkan, perpajakan, dan tindak pidana Korupsi, dan Saya dangat yakin alumni USU mampu melakukan ini dengan cara yang aduhai, ujarnya mengakahiri Sabtu 28 Maret 2015 yang lalu di Kota Bekasi. (Jannus P)
Masyarakat Asal Sumut Mendukung Alumni USU Membuka Kasus Para Koruptor Dan Pengemplang Pajak
Jakarta - Eltrapost, Masyarakat Sumut di Jakarta dan sekitarnya terutama kalangan PERS, dan LSM sangat menantikan jurus-jurus maut para alumni USU yang tersebar diberbagai instansi seperti di BPKP, Perpajakan, Perbankkan, Kejaksaan untuk memberi pelajaran kepada tokoh-tokoh nasional yang memandang alumni USU dengan sebelah mata, terkait penggalangan Hak Angket DPR RI terhadap Menteri Hukum Dan Ham.
Alumni USU walaupun salah satu alumni Universitas terbesar di Indonesia memang belum seberuntung Alumni Gajah Mada dan UI, yang alumninya banyak menjadi Menteri dan Pejabat tinggi Negara , padahal dari segi kemampuan Intelek mereka tidak kalah dengan kedua alumni Universitas Besar itu. Sehingga rasa empati terhadap Menteri Hukum Dan Ham, DR Yasonns Hamonangan Laoly, SH yang diserang membabi buta adalah wajar, karena Menteri Hukum Ham ini baru alumni kedua dari alumni USU yang menjadi Menteri.
Sentimen ini terusik setelah tokoh-tokoh Partai Golkar hasil munas Bali sudah irrasional dalam menyikapi persoalan, seperti ada salah satu tokoh yang mengatakan Laoly adalah Begal, dimana pernyataan ini diulang-ulang di media TV mereka, dan kemudian menggalang Hak Angket di DPR RI.
Ketika kekecewaan para Alumni USU ini dikonfirmasikan ke Seorang pengamat hukum di Mapolda Metro Jaya melalui Hand Phone, jumat 27 Maret 2015, Sumihar Simangunsong,SH, dimana beliau Lulusan Universitas Nomensen Medan, dan Dr Laoly,SH adalah mantan Dosen disana. beliau mengatakan, sangat tepat tindakan dan strategi para Alumni USU ini karena tindakan para pengusung Hak angket ini sudah di nilai sangat berlebihan.
Dari segi kemampuan ujarnya melanjutkan, Saya sangat yakin kalau kemampuan akademis hukum Pak Menteri pasti jauh lebih unggul dari kemampuan Pengacara yang mendampingi Kelompok Pengurus PG Munas Bali, yaitu Prof Yusril Mahendra, alasannya Alumni USU sangat piawai di hukum Pidana dan Perdata dibandingkan dengan alumni Universitas Negeri besarnya lainnya.
Menurut Saya, mustahil bagi Prof Yusril Mahendra mampu mengimbangi DR Laoly, SH yang alumni USU untuk bertarung secara Ilmu Hukum pidana dan perdata, karena Prof Yusril adalah jurusan Hukum Tata Negara.
Selanjutnya beliau menyarankan kepada yang terhormat mantan Dosennya Pak Menteri, agar membuka diri kepada PERS mingguan agar ada pertarungan Dialektika Politik di Media, jangan seperti pejabat-pejabat asal SUMUT yang selalu menjauhkan dirinya dari PERS Mingguan, padahal mereka satu daerah asal, sehingga media-media besar dapat dengan mudah menyerangnya dalam suatu kasus karena pejabat tersebut dipandang tidak memiliki sarana untuk menyerang balik, yaitu kumpulan awak media yang dekat kepadanya.
Dari pengamatan Saya media – media mingguan ini gebrakannya sangat disegani menggebrek siapapun di Ibukota ini, persoalan utamanya adalah kurangnya pasokan informasi dan jaringan ke atas, kalau ada informasi agak kabur saja, para pejabat yang disorot sudah pasti ketakutan dan bahkan bisa jadi stroke kalau tidak cepat-cepat memanggil Tulang ke Pemred .
Dihari berikutnya, di Kota Bekasi, salahseorang masyarakat asal SUMUT, Pak Sibuea yang pensiunan PNS di DKI Jakarta, tetapi tidak bersedia menjelaskan identitasnya secara jelas, mengatakan, Pak Menteri tidak perlu takut kepada anggota DPR RI pengusul Hak Angket itu, dan masyarakat asal SUMUT sangat yakin kepada kemampuan Pak Menteri dibidang Ilmu Hukum tidak akan terkalahkan oleh para penggugatnya, salah satu alasannya, kalau dibidang Ilmu hukum alumni USU pasti nomer satu di Republik ini, yang disangsikannya adalah opini media besar yang telah didesain untuk menggiring opini.
Menurut Sibuea, opini media-media harian dan Televisi yang pro kepada kelompok Munas Bali yang harus diantisipasi, karena bukan subtansi keputusan itu yang ingin dituntaskan mereka, tetapi ada udang dibalik itu. Menurut pengamatan Saya, ujarnya, Tujuannya agar Alumni USU tidak bisa menyatukan kekuatan di tingkat Nasional, agar alumni USU takut merebut pimpinan pemerintahan dibidang Hukum, Keuangan, dan Bank, dimana kemampuan pengetahuan mereka dibidang tersebut tidak kalah dengan alumni besar lainnya, malahan secara rata-rata lebih unggul.
Jadi untuk mengkaunter opini media-media besar ini yang telah dicurigai membonceng kepentingan jangka panjang kelompok tertentu, Pak Menteri harus membuka diri kepada Pers-Pers Mingguan dan LSM asal sumut, supaya ada sarana untuk menyerang. Dimana kemampuan mereka sangat jitu untuk menggebrak kasus-kasus koropsi,dll. Secara umum media dan LSM yang disebut itu sangat hebat kekuatan dan sepak terjang mereka.
Jadi salah satu perlawanan yang tepat adalah dengan membuka data-data kejahatan perbankkan, perpajakan, dan tindak pidana Korupsi, dan Saya dangat yakin alumni USU mampu melakukan ini dengan cara yang aduhai, ujarnya mengakahiri Sabtu 28 Maret 2015 yang lalu di Kota Bekasi. (Jannus P)
